Ini akan selalu tentang aku dan kamu,#R.

Sedari awal, aku sudah tahu semesta tidak pernah sembarangan mengatur pertemuan. Senada dengan keyakinanku tentang tidak adanya konsep kebetulan, semua ini belaka karena aku dan kamu sudah direncanakan.

Ini akan selalu tentang aku dan kamu, R.

Aku, seorang lelaki yang kerap diam-diam menikmatimu dari kejauhan dan akhirnya memperoleh kesempatan untuk mendengar suaramu hampir setiap malam tanpa bosan.
Dan kamu, seorang perempuan yang begitu mengagumkan, senang mengundang tawa dan kesejukan.

Aku, dengan duniaku yang khayal, maya, monochrome, dalam interaksi antarmuka.
Dan kamu, dengan dunia berjuta rasa, technicolor, rayuan dan cumbu manja pria.

Tenang-tenanglah #R. Sejak mula kisah ini bukan untuk mengganggumu, sekalipun aku mampu. Sangat ingin kudekap deraimu saat tidur malam itu, kala kalut dan ketidakpastian pria-mu mendera, tapi aku bertahan, tanpa bosan, mendengarkan dalam diam, karena aku hanya pengagum setia.
Sekarang kamu tahu kan, betapa menariknya dirimu?

Ini akan selalu tentang aku dan kamu, R.

Aku, pemuda yang merasa cukup meski hanya menjadi buih kecil di samudera-mu.
Dan kamu, gadis yang selalu menjadi matahari untuk duniaku.


Disatu ketika, saat cintaku hampir penuh, kulihat sepatu pria depan pintu kamar terkuncimu. Walau menurutmu cinta bukan pengikat kita, tapi bersamamu rasanya sudah sama. Mungkin bukan aku yang kamu pinta dalam doa-doa, atau memang bukan aku yang kamu pilih untuk menjaga. Tapi tetap saja, kamu tahu rasanya di tikam tapi tidak berdarah?

Akupun memilih pergi #R. Jauh dari kehidupanmu. Setengah mati aku berusaha tetap berdiri. Lama aku tak menikmati enaknya rasa makan. Aku memilih berkelana dengan sahabat-sahabat baru, menyibukkan diri dalam waktu yang kadang-kadang terasa begitu sepi. Aku berjuang memperbaiki diri dan menautkan patahan hati. Hingga akhirnya aku sudah terlalu jauh menyendiri. Aku terpana menatap diriku sendiri. Telah banyak mimpi-mimpi yang kugapai.

Ternyata benar, waktu adalah penyembuh segala.

Sumpahku demi datu-datu, ini terakhir aku jatuh cinta.


Lalu di lain masa, ketika pria, uang dan cinta mengecewakanmu; kita kembali bersua. “Buatlah aku lupa!”, katamu. Kamu tahu kan, segala yang tertusuk padamu, berdarah padaku? Maka kualirkan nadiku padamu, hingga denyutmu kembali berirama. Seluruh yang tertahan padaku, kuberikan padamu, dalam diam, agar kamu bisa kembali riang, itu saja.
Sekarang kamu tahu kan betapa berharganya dirimu?

Ini akan selalu tentang aku dan kamu, R.


Tenang-tenanglah #R, kita tidak akan pernah tahu bagaimana hidup membawa kita. Dan aku akan selalu baik-baik saja. Bukankah dari dulu aku sudah begitu, R? Jauh sebelum kamu mulai menyadari eksistensiku, aku telah dipaksa siap untuk patah hati tanpa disembuhkan. Jadi, tidak apa-apa.

Hanya satu yang aku minta, R. Sediakanlah sebuah sudut di hatimu, kecil saja, tidak masalah. Kelak ingatlah aku sebagai seseorang yang pernah mengasihimu dengan tulus. Dan aku akan mengingatmu sebagai seseorang yang berutang kepastian bahwa kamu akan selalu baik-baik saja dengan siapapun pasanganmu.
.
.
.
.
.
.
Jadi, #R. Dengan berakhirnya tulisan ini, aku ingin menyampaikan sesuatu, bisa jadi benar-benar untuk yang terakhir. Tidak, aku takkan mengucapkan selamat tinggal padamu #R, karena kita tak pernah memulai cerita ini.

Tenang saja, kamu telah lengkap mengajariku seni menyembunyikan perasaan. Kamulah sosok tunggal yang telah membuatku mengamini pepatah : cinta tak harus memiliki. Kamu pulalah makhluk sempurna yang mampu membuatku jatuh hati berkali-kali, bertahun-tahun, setiap hari. Hingga aku lupa, aku telah belajar bangkit berulang kali juga.

Aku hanya ingin bilang kalau–
.
.
.
.
.
Sudah saatnya bagimu untuk mengembalikan kewarasanku– agar dapat dicuri oleh orang lain.
Karena sejak awal aku sudah tahu, ini akan selalu tentang aku dan kamu saja…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bukan kita.

Adieu, Reva.
AWS

Comments

comments